Hari Santri Nasional : UINSA Adakan Istighosah Bersama - LPM ARRISALAH

Hari Santri Nasional : UINSA Adakan Istighosah Bersama

Share This
Arrisalah Newsroom  - Tepat 3 tahun sudah Hari Santri Nasional (HSN) diresmikan, tepatnya pada 22 Oktober 2015 silam. Demi kemaslahatan UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dan bangsa, Senin (22/10/18) UINSA turut memperingati hari besar nasional ini dengan diadakannya istighosah dan doa bersama yang bertempat di Masjid Raya Ulul Albab UINSA yang diikuti oleh mahasiswa, jajaran pimpinan hingga staff UINSA.

Beberapa hari sebelumnya sudah beredar pamflet di media sosial mengenai kegiatan tersebut, bahwa warga UINSA dihimbau untuk memakai dress code ala santri, seperti memakai sarung, songkok hitam, baju taqwa putih untuk putra, dan untuk putri dihimbau memakai rok, baju putih, dan jilbab putih. Meski tak semua warga UINSA memakai dress code seperti yang sudah dihimbaukan, namun euforia suasana HSN tetap terasa.

Acara dimulai tepat pukul 08.33 WIB yang diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur'an surat Al-Mulk bersama yang dipimpin oleh salah satu mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), sambutan rektor yang diwakili oleh Abu Azzam Al Hadi (wakil rektor II UINSA), dilanjut dengan acara inti yakni istghosah, membaca diba’, dan tausiah.

Moh. Ali Aziz selaku pengisi tausiah HSN, dalam tausiahnya menyampaikan “Senakal-nakalnya santri adalah sebaik-baiknya yang bukan santri, tetapi santri harus senantiasa bertaubat, dan tidak membiarkan dosa menjadi penghalang kesuksesan”. Sepatah kata beliau menjadi pesan bagi kita semua khususnya para santri, bahwa santri juga manusia yang tidak luput dari dosa, “Jadilah nyamuk, jangan menunggu lubang, tapi buatlah lubang, lebih baik gila tapi sejatinya waras, daripada waras tapi sejatinya gila,” terusnya dengan sepenggal kata filosifi yang penuh makna.

Kholilurrohman, salah satu mahasiswa semester 3 FDK UINSA mengungkapkan pandangannya terhadap HSN “….kata santri itu bersifat universal, tidak hanya mereka yang mengenyam pendidikan di pesantren, tapi mereka yang mengenyam pendidikan di madrasah juga disebut santri,” ungkapnya pada crew Arrisalah. 

Kegiatan yang dilakukan warga UINSA dalam peringatan HSN merupakan miniatur warga Indonesia terhadap euforia HSN, bahwa antusiasme merayakan HSN tidak hanya dari orang-orang yang pernah belajar di pesantren, lebih dari itu orang-orang yang tidak pernah nyantri pun juga merayakan  HSN dengan antusiasme penuh ala masyarakat pesantren. (Nad/Odi/Yaz) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages