Penulis: Aulia Wulandari
Editor: Raka
![]() |
| Artificial Intelligence, Sumber: pinterest.com |
Kita mungkin sedang hidup pada masa ketika manusia dapat meminta mesin menulis, merangkum, menerjemahkan, bahkan menjawab berbagai pertanyaan hanya dalam hitungan detik. Teknologi tersebut dikenal sebagai Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kehadirannya memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan manusia, tetapi di balik kepintaran tersebut muncul sebuah pertanyaan: apa sebenarnya pengertian dari AI itu sendiri dan bagaimana bisa berkembang hingga sejauh ini?
Istilah Artificial Intelligence pertama kali
diperkenalkan dalam proposal “A Proposal for the Dartmouth Summer Research
Project on Artificial Intelligence” yang disusun pada 1955 oleh John
McCarthy, Marvin Minsky, Nathaniel Rochester, dan Claude Shannon. Dalam karya
tersebut menjelaskan bahwa;
"The study is to proceed on the basis of the conjecture
that every aspect of learning or any other feature of intelligence can
inprinciple be so precisely described that a machine can be made to simulate
it. An attempt will be made to find how to make machines use language, form
abstractions and concepts, solve kinds of problems now reserved for humans, and
improve themselves."
Proposal tersebut menggambarkan gagasan untuk membuat mesin
mampu meniru berbagai aspek kecerdasan manusia, seperti menggunakan bahasa,
membentuk konsep, serta menyelesaikan persoalan yang sebelumnya menjadi ranah
manusia. Gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam
perkembangan ilmu kecerdasan buatan.
Seiring perkembangannya, AI semakin banyak digunakan dalam
berbagai bidang. Melansir artikel dari laman resmi DJKN Kementerian Keuangan
yang ditulis oleh Henny Purwanti, AI adalah sejenis teknologi di bidang ilmu
komputer yang memiliki kemampuan khusus untuk memecahkan masalah dan kehadiran
kecerdasan buatan (AI) terbukti mampu mendongkrak efisiensi kerja manusia
secara signifikan.
Melihat beberapa pengertian tersebut, AI datang menjadi hal
yang sangat menguntungkan bagi manusia. Dari memudahkan pekerjaan, pendidikan,
dan masih banyak lainnya. Lalu, apakah akan selalu memberikan dampak positif?
Tentu tidak.
Banyak hal negatif yang juga ikut menyertai perkembangan
teknologi saat ini. Dalam hal ekonomi, beberapa pekerjaan dapat mengalami
perubahan atau bahkan tergantikan oleh mesin sehingga menjadi tantangan bagi
tenaga kerja. Dalam pendidikan, banyak pelajar, baik siswa maupun mahasiswa,
menggunakan AI sebagai salah satu acuan dalam penyelesaian tugas tanpa selalu
melihat atau memeriksa kembali data dan sumber yang orisinal.
Melihat banyaknya dampak yang perlu diperhatikan dalam sektor
ekonomi dan pendidikan, belakangan ini muncul pula persoalan mengenai
penggunaan buku sebagai sumber untuk pengembangan AI. Salah satu contohnya
adalah perusahaan AI ternama, Anthropic. Dalam perkara hukum yang berkaitan
dengan penggunaan buku untuk melatih AI, diketahui bahwa Anthropic membeli buku
dalam jumlah besar, kemudian memisahkan bagian jilidnya untuk mempermudah
proses pemindaian dan mendigitalisasikan isi buku tersebut. Salinan fisik yang
telah dipindai kemudian dapat dihancurkan.
Pemindaian massal ini menuai banyak perdebatan. Di sisi
hukum, persoalannya tidak sesederhana bahwa tindakan tersebut sepenuhnya
melanggar atau tidak melanggar hak cipta. Pengadilan sebelumnya menyatakan
bahwa penggunaan buku yang diperoleh secara sah untuk melatih AI dapat termasuk
fair use, sementara penyimpanan jutaan buku bajakan menjadi persoalan
hukum tersendiri. Perkara tersebut kemudian berakhir dengan persetujuan
penyelesaian senilai US$1,5 miliar pada Juli 2026.
Dalam hal ini,
pemilik toko tentu saja dapat merasakan kebimbangan. Pemilik merasa senang
karena buku-buku lama yang sulit terjual kini dapat terjual dalam jumlah besar.
Di sisi lain, ada pula rasa sedih karena buku-buku tersebut pada akhirnya dapat
berakhir dengan pemusnahan setelah proses digitalisasi. Hal ini menunjukkan
bahwa perkembangan teknologi juga dapat menghadirkan persoalan baru dalam pelestarian
sumber pengetahuan.
Sebagai generasi muda
saat ini, kedatangan teknologi yang begitu maju tentu suatu hal yang harus
diperhatikan. Melihat dari sebelum adanya permasalahan di atas, penggunaan AI
juga dapat memengaruhi kebiasaan membaca di kalangan pelajar maupun mahasiswa, terutama
ketika seseorang lebih memilih memperoleh jawaban secara instan tanpa membaca
sumber secara langsung. Hingga munculnya persoalan pemindaian dan pemusnahan
buku fisik tersebut, merupakan suatu hal yang harus kita perhatikan bersama.
Apa akibatnya jika buku asli atau karya asli dimusnahkan? Bukankah dengan
adanya pendigitalisasian akan memudahkan kita dalam mencari sumber?
Suatu inovasi baru
tidak akan lepas dari hal positif maupun negatif. Adanya pendigitalisasian
dengan menghancurkan sumber asli dapat memberikan akibat yang besar. Sumber
asli merupakan bentuk representasi dari para penulis dan juga bagian dari jejak
pengetahuan yang perlu dijaga. Adanya ancaman terhadap keaslian dan akses
informasi dapat terjadi jika buku-buku rujukan utama telah hilang dan sulit
ditemukan kembali. AI juga dapat memberikan informasi yang berbeda atau bahkan
keliru dari sumber rujukan asli, sehingga keberadaan sumber primer tetap
penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap informasi. Selain itu, terdapat
potensi konsentrasi data oleh beberapa perusahaan komersial. Masyarakat
berisiko semakin bergantung pada akses informasi yang berada di dalam platform
tertentu, terlebih banyak media atau platform yang menyediakan layanan berbayar,
sedangkan perpustakaan tetap memiliki peran penting dalam menjamin hak
masyarakat untuk memperoleh informasi.
Kemajuan AI atau Artificial Intelligence sangat
berperan penting untuk kehidupan manusia saat ini. Namun, pendigitalisasian
semua buku-buku lama sebaiknya digunakan dengan tujuan pelestarian dan juga
memberikan kemudahan akses pada publik sehingga tetap akan lestari hingga
generasi selanjutnya tanpa menghilangkan jejak sejarah yang asli. Teknologi
seharusnya membantu manusia menjaga pengetahuan, bukan justru membuat manusia
kehilangan sumber pengetahuan tersebut.

0 Komentar